<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Hang Rambang&#039;s Blog</title>
	<atom:link href="http://hangrambang.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://hangrambang.wordpress.com</link>
	<description>Not just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Fri, 11 Sep 2009 13:11:36 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='hangrambang.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Hang Rambang&#039;s Blog</title>
		<link>http://hangrambang.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://hangrambang.wordpress.com/osd.xml" title="Hang Rambang&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://hangrambang.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Bahasa, Komunikasi, dan Kenyataan</title>
		<link>http://hangrambang.wordpress.com/2009/09/11/bahasa-komunikasi-kenyataan/</link>
		<comments>http://hangrambang.wordpress.com/2009/09/11/bahasa-komunikasi-kenyataan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Sep 2009 12:47:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hangrambang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[eco]]></category>
		<category><![CDATA[eufemisme]]></category>
		<category><![CDATA[fungsi bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[fungsi konstitutif]]></category>
		<category><![CDATA[fungsi refleksif]]></category>
		<category><![CDATA[kenyataan]]></category>
		<category><![CDATA[komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[komunikatif]]></category>
		<category><![CDATA[pesan]]></category>
		<category><![CDATA[realitas]]></category>
		<category><![CDATA[umberto eco]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hangrambang.wordpress.com/?p=10</guid>
		<description><![CDATA[Ada hubungan erat di antara bahasa, komunikasi, dan kenyataan. Bukankah bahasa digunakan untuk berkomunikasi mengenai kenyataan? Kalimat yang kita ucapkan atau karangan yang kita tuliskan menyampaikan informasi mengenai kenyataan yang akan kita perkatakan. Bahasa dan Komunikasi: Fungsi Refleksif Dalam hal itu, bahasa menjadi sarana menyampaikan kenyataan. Bahasa dan kenyataan itu mirip dengan angkot dan penumpang; [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hangrambang.wordpress.com&amp;blog=9433125&amp;post=10&amp;subd=hangrambang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada hubungan erat di antara bahasa, komunikasi, dan kenyataan. Bukankah bahasa digunakan untuk berkomunikasi mengenai kenyataan? Kalimat yang kita ucapkan atau karangan yang kita tuliskan menyampaikan informasi mengenai kenyataan yang akan kita perkatakan.</p>
<p><strong>Bahasa dan Komunikasi: Fungsi Refleksif</strong></p>
<p>Dalam hal itu, bahasa menjadi sarana menyampaikan kenyataan. Bahasa dan kenyataan itu mirip dengan angkot dan penumpang; bahasa mengusung kenyataan dari seorang pengirim informasi kepada penerima informasi, serupa halnya dengan angkot yang membawa kita dari rumah ke tempat pasar, misalnya.</p>
<p>Maka, sering orang mengatakan bahasa itu alat komunikasi. Maksudnya, ya seperti itu tadi: Bahasa digunakan menyampaikan pesan, entah itu informasi ilmiah, entah pula nuansa batiniah. Nah, dari sudut itu bahasa dianggap seolah-olah kaca tembus-pandang. Apakah maksudnya?</p>
<p>Bayangkan saja Anda melihat sesuatu <em>melalui </em>kaca jendela. Apakah yang Anda perhatikan? Ke manakah mata Anda arahkan? Jelas bukan pada kacanya, kan? Anda mengarahkan perhatian pada sesuatu yang ingin dilihat, yang ada di seberang kaca jendela Anda. Bahasa yang digunakan sebagai alat, ya seperti kaca itu. Anda tidak memperhatikannya.</p>
<p>Itu tidak berarti ketika berkomunikasi Anda mengabaikan bahasa. Tidak begitu. Maksudnya tak lain adalah Anda lebih memperhatikan apakah pesan bisa sampai kepada teman bicara dengan baik. Dengan kata lain, Anda berusaha agar komunikasi berlangsung efektif; Anda ingin pesan tersampaikan persis sebagaimana Anda inginkan.</p>
<p>Demikianlah, dengan kemampuannya untuk membantu kita menyampaikan pesan, bahasa menjalankan fungsi refleksif. Dalam fungsi tersebut, bahasa bertugas mencerminkan kenyataan, baik kenyataan itu bersifat eskternal karena terletak di luar diri penutur bahasa maupun kenyataan yang internal karena ada di dalam kesadaran kita. Fungsi refleksif bahasa itu memungkinkan manusia berkomunikasi.</p>
<p><strong>Bahasa dan Kenyataan: Fungsi Konstitutif</strong></p>
<p>Merefleksikan kenyataan demi tujuan komunikatif bukan satu-satunya fungsi bahasa. Berkat beragam perangkatnya bahasa juga punya kemampuan lain, yang tak kurang pentingnya untuk dipahami. Kemampuan itu berasal dari potensi bahasa untuk menciptakan sesuatu yang mungkin ada dan mungkin tidak ada.</p>
<p>Fungsi yang kita sebut konstitutif itu terdapat dalam karya sastra. Kata, kalimat, dan paragraf dalam karya sastra membangun suatu dunia imajiner. Manusia dan peristiwa serta latar tempat dan latar waktu di dalamnya membangun dunia imajiner di dalam kesadaran kita. Kita membangun dunia itu dengan bahasa yang tertera dalam teks sastra. Bahasa menciptakan sesuatu yang tidak ada di dalam kenyataan sesungguhnya.</p>
<p>Bilamana kita mendefinisikan bahasa sebagai jalinan tanda, dalam kaitan ini menjadi sangat tepat pernyataan Umberto Eco bahwa tanda adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk berbohong. Kata-kata memang bisa digunakan untuk membangun kebohongan. Dalam arti tertentu, karya sastra itu semacam kebohongan juga.</p>
<p>Yang kemudian boleh disimpulkan, fungsi konstitutif bahasa mampu membentuk kenyataan nonempiris. Bahasa sanggup membangun berbagai kenyataan, termasuk kenyataan imajinatif dan kenyataan khayali belaka alias kebohongan. Bahasa membangun realitas, tidak peduli ia benar-benar ada ataupun tidak ada sama sekali.</p>
<p>Maka, banyak sekali iklan yang ditayangkan di televisi, misalnya, mempertontonkan kemampuan bahasa membangun kenyataan sesuai dengan keinginan pembuat iklan. Dulu pejabat Orde Baru gemar memanfaatkan perangkat bahasa, seperti eufemisme, untuk menyembunyikan kenyataan sebenarnya dan menggantinya dengan kenyataan versi mereka.</p>
<p><strong>Pisau Bermata Dua</strong></p>
<p>Dengan demikian, fungsi refleksif dan konstitutif bahasa menjadikannya pisau bermata dua. Di satu sisi, ia merupakan sarana wajib agar komunikasi bisa berjalan. Di sisi lain, ia bisa dimanipulasi untuk berbohong. Celakanya, bahasa selalu tersedia dan gratis sehingga sembarang waktu orang dapat berdusta. (Tentu saja, orang yang sama setiap saat bisa pula berkata jujur.)</p>
<p>Walhasil, fungsi mana yang akan digunakan dan sejauh mana fungsi itu akan dimanfaatkan bergantung sepenuhnya pada pengguna bahasa. Yang tak boleh terjadi, tidak tahu setiap detik Anda bisa saja kena kibul.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hangrambang.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hangrambang.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hangrambang.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hangrambang.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hangrambang.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hangrambang.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hangrambang.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hangrambang.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hangrambang.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hangrambang.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hangrambang.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hangrambang.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hangrambang.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hangrambang.wordpress.com/10/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hangrambang.wordpress.com&amp;blog=9433125&amp;post=10&amp;subd=hangrambang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hangrambang.wordpress.com/2009/09/11/bahasa-komunikasi-kenyataan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bfd6cc662a8b905a726ae0116691c656?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hangrambang</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
